Rabu, 25 Mei 2016

PADA SEPARUH MALAM



Pada separuh malam aku mengadu
Tentang gundah gulana hatiku
Mengais sejumput harapan padamu

Dan kepada angin aku kirimkan kabar
Tentang sekuntum mawar yang tengah mekar
Meski tandus di tengah belukar

Sungguh
Ada kalanya nasihatmu aku tak butuh
Karena ingin kupinjam bahumu tuk sekedar berlabuh
Sebentar, hanya sekejap aku melepas keluh

oneNight..May14
Joe_DCoolGen 

Jumat, 03 Juli 2015

JALAN PERUBAHAN (Sebuah Trilogy)

1.KEGALAUAN

Malam masih buta
Ketika hatiku terketuk menuliskan sebuah prosa
Tentang negeri impian yg masih direka
Dari geliat mimpi mimpi para pemimpin perubahan pemula
Yang masih terlelap dibalik selimut tebal dan peluk asmara

Dan ketika mentari menyapa
Dengan sinar kemerahan...dan keceriaan pagi
Aku tersenyum menyaksikan tepi batas negeri ini
Laksana sutera alam nan menawan
Tapi lusuh di sudut perbatasan tanpa polesan..

Siang telah menyengatkan teriknya
Membakar setiap sudut fatamorgana
Seperti juga menyulutkan bara di hatiku
Kala kusaksikan negeri ini masih ditangan para durjana
Yang berkuasa dengan hati yang telah terbakar begitu hitamnya...

Jiwaku berkobar manakala kusaksikan ketimpangan....
berjejer orang dalam antrian tanpa kepastian

Dadaku sesak laksana terhimpit
Ketika kusaksikan tua renta menahan sakit dengan duit yg sedikit

Rahangku gemetar
Ketika kusaksikan syarat ijin masih berlembar lembar

Aku terduduk bersimpuh
Melihat wajah negeriku yang masih lusuh

Bahkan amarahku meradang
Ketika kudapati loket loket tutup ditinggal makan siang

Tatapanku nanar tanpa harapan
Menyaksikan anak anak negeri yg tercabik dari asanya menggapai masa depan

Akupun hampir kehilangan harapan
Manakala pembangunan direka tanpa arah tujuan
Dan kesejahteraan yang kian jauh dari keadilan dan pemerataan.

Malam masih buta
Ketika kuakhiri prosa pertama ini untuk beranjak pergi
Melepas segala kepenatan menuju negeri impian.

Nunukan, Mei 2015
Joe_DCoolGen


Kamis, 21 Mei 2015

JALAN PERUBAHAN (Sebuah Trilogy)

2. NEGERI IMPIAN

Disana...di negeri para Karaeng
Tersebutlah sebuah negeri setengah dongeng
Dimana beban masyarakat sangatlah enteng
Karena yang dibangun bukanlah benteng
Apalagi hanya nyaring suara kaleng

Disana...di negeri para pemuka kreasi dan inovasi
Pembangunan haruslah manusiawi
Bukan kerja berorientasi ekonomi
Apalagi hanya sekedar memperkaya diri

Disana....
Para Karaeng di Bantaeng
Kreasi dan Inovasi adalah dedikasi
Untuk Membangun Negeri

Dideďikasikan secara khusus untuk Bupati Bantaeng dan seluruh jajaran dan masyarakat
Sebuah renungan di akhir Pembelajaran Benchmarking
Peserta Diklatpim III angk 3 2015 NNK-LAN

Marina Beach....20 Mei 15.  17.43
By Jo_DCoolGen

Rabu, 25 Maret 2015

PERMATA DALAM SUNYI

Kujumpai engkau ditengah gurun savana
Berpendar selaksa permata nan tiada tara
Tetapi tetaplah engkau berselimut dalam kering dan sunyi
Seperti sebungkus asa ku yang tersembunyi

Dalam luasnya hamparanmu
Terangmu menuntunku pada pencarian
Sendiri

Kutemukan dikau di kedalaman samudra
Berbinar laksana untaian mutiara
Dan tetaplah dikau bersemayam dalam gelap dan dingin
Seperti juga gelisah hatiku memendam bathin

Dalam terpaan gelombang samudra
Dinginmu merengkuhku pada dekapan
Tanpa makna

Engkaulah mutiara
Yang kucari sebagai puncak asa
Menggenapi mahligai dengan untaian permata
Meski tetaplah engkau dalam dingin dan sunyi
Dan membiarkanku dalam penantian tanpa makna
Sendiri

Muara teweh...Juli 01


Sabtu, 07 Maret 2015

GERHANA PAGI

Kukecap manis senyummu
Pada pagi yang menyapa cerah
Dan lapangnya hatiku seringan dirimu melangkah
Mengikis kabut hati yang kelabu

Engkaulah matahari
Yang gerhana
Karena cahayamu yang berseri
Tertutupi bulan purnama

Dan tetaplah jua engkau indah adanya

lorong1, 60315
Joe DCoolGen


Minggu, 01 Maret 2015

JALAN PULANG

Dititik ini
Jiwaku nadir
Harapanku sumir
Dan mimpi yang teranulir
Padamu yang bukan takdir
Meski kukecap manis senyummu disudut bibir
Dibawah terik mentari yang polos tanpa tabir
Menggugah kesadaran naluriku pada detik terakhir
Menyemayamkan hasratku padamu di istana pasir
Ditengah taman firdaus engkau bersenda jiwamu terparkir

Joe DCoolGen

Kota Sanggam, 96


Selasa, 17 Februari 2015

PERTIWIKU

Dari sudut jalan ini
Kulihat senyum ramah lelaki dan wanita paruh baya
Juga pemuda dan remaja tanggung
Generasi generasi yang memegang tongkat budaya yang tersisa
Dimana kemakmuran menjadi impian maya
Dibalik deretan gigi putih mereka, dan ras ras warna
Aku menyaksikan sebuah kemakmuran yang direka
Darwin menyapaku dengan ramah memberi kesan pertama
Dimana cintaku pada pertiwi masih tak terkira
Meski di negeriku kaum papa hanyalah menjadi konstitusi dan tambahan lembaran negara

Di bukit bukit batu....
Aku menghirup aroma Calyptus yang menyeruak setiap sudut kota
Yang bertajuk seperti noktah noktah diantara hamparan kerikil fatamorgana
Tuhan benar benar adil dengan sedekah hujannya yang limit
Tapi menumbuhkan naluri menanam bagi kaum berduit
Dengan mahkota pirang secantik Gerry, atau secokkat Felice, dan seramah Michelle
Palmerstone membawaku pada secuil surga tandus yang menghijau
Dimana anganku pulang pada pertiwiku, jamrud hijau
Meski sang ibu tengah menangis karena ulah kami yag terlampau

Ditengah terik padang Emerald
Dari atas Fairbairn Dam yang teduh
Dengan setianya mereka menghimpun sedekah setetes air
Dari sungai sungai, creek dan clitters,
Dimana sebagian darinya telah menjadi lintasan rasa hampir disepanjang tahunnya
Dengan airnya yg mengering...hanya menyisakan tulus menyimpan yang tersisa
Menyuburkan pohon pohon botol dengan fosil kegemukannya
SunWater memberiku pelajaran pertama
Dimana tirta menjadi maha raja, yang dikawal hingga akhir ia bermuara
Dahagaku tiba tiba berpaling pada Sang Ibu Pertiwi
Dimana anugerah maha besar pada sungai sungai, dari ujung bukit hingga muara
Hanyalah menjadi tong sampah, bahkan sumber bencana karena tak terjaga
Dan rumah tak aman bagi paa satwa pemiliknya.

Disudut jalan ini...
Kuamati kembali secarik peta
Yang menuntunku pada kaki kaki pencakar langit
Dimana senyum gigi putih dari ras pemilik tanah menyambutku di pintu pertama
Ku sambut uluran tangan halus para pelayan yang setia pada rakyatnya
Canberra sepertinya tau bagaimana ia mengemban AMPERA
Maka dari sudut jendela John Gordon yang terbuka
Kupandangi dari jauh negeriku yang masih angkara
Dimana rakyat hanyalah objek kerja bagi kemakmuran mereka
Dan AMPERA hanyalah pokok bahasan dalam setiap rapat kerja.

Senyum ramah kembali menyapaku
Dari gadis anggun dengan jubah jubah
Juga lalu lalang ras penjuru dunia yang ramah
Ketika ku akhiri aksi berdiriku dari busway yang lengang
Dari perbukitan bondi junction menuju pelataran Opera House
Dan tepian Sidney Harbour yang glamour
Ku edarkan 360 derajat pandanganku selaksa pemandu tour
Dimana dunia telah bersalin rupa dengan sejuta rona
Dimana selembar sutra laksana batas batas antara peneguh iman dan kaum pendosa
Lakum diinukum waliyadiin
Maka dari sudut Mushollah yang kusulap dari dari sepotong kain perca dari tepi ruang restoran Java
Doaku kembali padamu, Pertiwi
Kaulah negeriku maha sempurna

Lintasan benua Australia, Dec 2002
Joe DCoolGen


KISAH PAGI

  Aku menemui embun pagi Yang bersiap pergi dari ujung dedaunan Ia seperti malu bercengkrama dengan mentari Yang menawarkan kehangat...