Kujumpai engkau ditengah gurun savana
Berpendar selaksa permata nan tiada tara
Tetapi tetaplah engkau berselimut dalam kering dan sunyi
Seperti sebungkus asa ku yang tersembunyi
Dalam luasnya hamparanmu
Terangmu menuntunku pada pencarian
Sendiri
Kutemukan dikau di kedalaman samudra
Berbinar laksana untaian mutiara
Dan tetaplah dikau bersemayam dalam gelap dan dingin
Seperti juga gelisah hatiku memendam bathin
Dalam terpaan gelombang samudra
Dinginmu merengkuhku pada dekapan
Tanpa makna
Engkaulah mutiara
Yang kucari sebagai puncak asa
Menggenapi mahligai dengan untaian permata
Meski tetaplah engkau dalam dingin dan sunyi
Dan membiarkanku dalam penantian tanpa makna
Sendiri
Muara teweh...Juli 01
Rabu, 25 Maret 2015
Sabtu, 07 Maret 2015
GERHANA PAGI
Kukecap manis senyummu
Pada pagi yang menyapa cerah
Dan lapangnya hatiku seringan dirimu melangkah
Mengikis kabut hati yang kelabu
Engkaulah matahari
Yang gerhana
Karena cahayamu yang berseri
Tertutupi bulan purnama
Dan tetaplah jua engkau indah adanya
lorong1, 60315
Joe DCoolGen
Pada pagi yang menyapa cerah
Dan lapangnya hatiku seringan dirimu melangkah
Mengikis kabut hati yang kelabu
Engkaulah matahari
Yang gerhana
Karena cahayamu yang berseri
Tertutupi bulan purnama
Dan tetaplah jua engkau indah adanya
lorong1, 60315
Joe DCoolGen
Minggu, 01 Maret 2015
JALAN PULANG
Dititik ini
Jiwaku nadir
Harapanku sumir
Dan mimpi yang teranulir
Padamu yang bukan takdir
Meski kukecap manis senyummu disudut bibir
Dibawah terik mentari yang polos tanpa tabir
Menggugah kesadaran naluriku pada detik terakhir
Menyemayamkan hasratku padamu di istana pasir
Ditengah taman firdaus engkau bersenda jiwamu terparkir
Joe DCoolGen
Kota Sanggam, 96
Jiwaku nadir
Harapanku sumir
Dan mimpi yang teranulir
Padamu yang bukan takdir
Meski kukecap manis senyummu disudut bibir
Dibawah terik mentari yang polos tanpa tabir
Menggugah kesadaran naluriku pada detik terakhir
Menyemayamkan hasratku padamu di istana pasir
Ditengah taman firdaus engkau bersenda jiwamu terparkir
Joe DCoolGen
Kota Sanggam, 96
Selasa, 17 Februari 2015
PERTIWIKU
Dari sudut jalan ini
Kulihat senyum ramah lelaki dan wanita paruh baya
Juga pemuda dan remaja tanggung
Generasi generasi yang memegang tongkat budaya yang tersisa
Dimana kemakmuran menjadi impian maya
Dibalik deretan gigi putih mereka, dan ras ras warna
Aku menyaksikan sebuah kemakmuran yang direka
Darwin menyapaku dengan ramah memberi kesan pertama
Dimana cintaku pada pertiwi masih tak terkira
Meski di negeriku kaum papa hanyalah menjadi konstitusi dan tambahan lembaran negara
Di bukit bukit batu....
Aku menghirup aroma Calyptus yang menyeruak setiap sudut kota
Yang bertajuk seperti noktah noktah diantara hamparan kerikil fatamorgana
Tuhan benar benar adil dengan sedekah hujannya yang limit
Tapi menumbuhkan naluri menanam bagi kaum berduit
Dengan mahkota pirang secantik Gerry, atau secokkat Felice, dan seramah Michelle
Palmerstone membawaku pada secuil surga tandus yang menghijau
Dimana anganku pulang pada pertiwiku, jamrud hijau
Meski sang ibu tengah menangis karena ulah kami yag terlampau
Ditengah terik padang Emerald
Dari atas Fairbairn Dam yang teduh
Dengan setianya mereka menghimpun sedekah setetes air
Dari sungai sungai, creek dan clitters,
Dimana sebagian darinya telah menjadi lintasan rasa hampir disepanjang tahunnya
Dengan airnya yg mengering...hanya menyisakan tulus menyimpan yang tersisa
Menyuburkan pohon pohon botol dengan fosil kegemukannya
SunWater memberiku pelajaran pertama
Dimana tirta menjadi maha raja, yang dikawal hingga akhir ia bermuara
Dahagaku tiba tiba berpaling pada Sang Ibu Pertiwi
Dimana anugerah maha besar pada sungai sungai, dari ujung bukit hingga muara
Hanyalah menjadi tong sampah, bahkan sumber bencana karena tak terjaga
Dan rumah tak aman bagi paa satwa pemiliknya.
Disudut jalan ini...
Kuamati kembali secarik peta
Yang menuntunku pada kaki kaki pencakar langit
Dimana senyum gigi putih dari ras pemilik tanah menyambutku di pintu pertama
Ku sambut uluran tangan halus para pelayan yang setia pada rakyatnya
Canberra sepertinya tau bagaimana ia mengemban AMPERA
Maka dari sudut jendela John Gordon yang terbuka
Kupandangi dari jauh negeriku yang masih angkara
Dimana rakyat hanyalah objek kerja bagi kemakmuran mereka
Dan AMPERA hanyalah pokok bahasan dalam setiap rapat kerja.
Senyum ramah kembali menyapaku
Dari gadis anggun dengan jubah jubah
Juga lalu lalang ras penjuru dunia yang ramah
Ketika ku akhiri aksi berdiriku dari busway yang lengang
Dari perbukitan bondi junction menuju pelataran Opera House
Dan tepian Sidney Harbour yang glamour
Ku edarkan 360 derajat pandanganku selaksa pemandu tour
Dimana dunia telah bersalin rupa dengan sejuta rona
Dimana selembar sutra laksana batas batas antara peneguh iman dan kaum pendosa
Lakum diinukum waliyadiin
Maka dari sudut Mushollah yang kusulap dari dari sepotong kain perca dari tepi ruang restoran Java
Doaku kembali padamu, Pertiwi
Kaulah negeriku maha sempurna
Lintasan benua Australia, Dec 2002
Joe DCoolGen
Kulihat senyum ramah lelaki dan wanita paruh baya
Juga pemuda dan remaja tanggung
Generasi generasi yang memegang tongkat budaya yang tersisa
Dimana kemakmuran menjadi impian maya
Dibalik deretan gigi putih mereka, dan ras ras warna
Aku menyaksikan sebuah kemakmuran yang direka
Darwin menyapaku dengan ramah memberi kesan pertama
Dimana cintaku pada pertiwi masih tak terkira
Meski di negeriku kaum papa hanyalah menjadi konstitusi dan tambahan lembaran negara
Di bukit bukit batu....
Aku menghirup aroma Calyptus yang menyeruak setiap sudut kota
Yang bertajuk seperti noktah noktah diantara hamparan kerikil fatamorgana
Tuhan benar benar adil dengan sedekah hujannya yang limit
Tapi menumbuhkan naluri menanam bagi kaum berduit
Dengan mahkota pirang secantik Gerry, atau secokkat Felice, dan seramah Michelle
Palmerstone membawaku pada secuil surga tandus yang menghijau
Dimana anganku pulang pada pertiwiku, jamrud hijau
Meski sang ibu tengah menangis karena ulah kami yag terlampau
Ditengah terik padang Emerald
Dari atas Fairbairn Dam yang teduh
Dengan setianya mereka menghimpun sedekah setetes air
Dari sungai sungai, creek dan clitters,
Dimana sebagian darinya telah menjadi lintasan rasa hampir disepanjang tahunnya
Dengan airnya yg mengering...hanya menyisakan tulus menyimpan yang tersisa
Menyuburkan pohon pohon botol dengan fosil kegemukannya
SunWater memberiku pelajaran pertama
Dimana tirta menjadi maha raja, yang dikawal hingga akhir ia bermuara
Dahagaku tiba tiba berpaling pada Sang Ibu Pertiwi
Dimana anugerah maha besar pada sungai sungai, dari ujung bukit hingga muara
Hanyalah menjadi tong sampah, bahkan sumber bencana karena tak terjaga
Dan rumah tak aman bagi paa satwa pemiliknya.
Disudut jalan ini...
Kuamati kembali secarik peta
Yang menuntunku pada kaki kaki pencakar langit
Dimana senyum gigi putih dari ras pemilik tanah menyambutku di pintu pertama
Ku sambut uluran tangan halus para pelayan yang setia pada rakyatnya
Canberra sepertinya tau bagaimana ia mengemban AMPERA
Maka dari sudut jendela John Gordon yang terbuka
Kupandangi dari jauh negeriku yang masih angkara
Dimana rakyat hanyalah objek kerja bagi kemakmuran mereka
Dan AMPERA hanyalah pokok bahasan dalam setiap rapat kerja.
Senyum ramah kembali menyapaku
Dari gadis anggun dengan jubah jubah
Juga lalu lalang ras penjuru dunia yang ramah
Ketika ku akhiri aksi berdiriku dari busway yang lengang
Dari perbukitan bondi junction menuju pelataran Opera House
Dan tepian Sidney Harbour yang glamour
Ku edarkan 360 derajat pandanganku selaksa pemandu tour
Dimana dunia telah bersalin rupa dengan sejuta rona
Dimana selembar sutra laksana batas batas antara peneguh iman dan kaum pendosa
Lakum diinukum waliyadiin
Maka dari sudut Mushollah yang kusulap dari dari sepotong kain perca dari tepi ruang restoran Java
Doaku kembali padamu, Pertiwi
Kaulah negeriku maha sempurna
Lintasan benua Australia, Dec 2002
Joe DCoolGen
Jumat, 13 Februari 2015
GERIANG
Catatan seorang karib EdyviaFanni
Malam masih muda
Karena senja baru saja minta diri
Dia berpesan
"Damailah engkau dalam sunyi"
Dalam selimut kabut dingin
Dalam rengkuhan
Gulita bernyanyi
Diantara rembulan dan gemintang
Yang bersenggama dalam terang pelangi
Malam masih muda
Karena memang masih ada tawa
Dipelupuk dewa bercanda
Suatu hari disudut R.II.2....ketika almanak 96 baru terbuka
Joe DCoolGen
Malam masih muda
Karena senja baru saja minta diri
Dia berpesan
"Damailah engkau dalam sunyi"
Dalam selimut kabut dingin
Dalam rengkuhan
Gulita bernyanyi
Diantara rembulan dan gemintang
Yang bersenggama dalam terang pelangi
Malam masih muda
Karena memang masih ada tawa
Dipelupuk dewa bercanda
Suatu hari disudut R.II.2....ketika almanak 96 baru terbuka
Joe DCoolGen
Kamis, 12 Februari 2015
SALAM TERAKHIR
Di persimpangan ini
Kulihat sinar matamu menyiratkan kegalauan
Dalam gelisah engkau bergumam
Berpisahlah raga dan biarkan jiwamu bersemayam
Di persimpangan ini
Kutemukan secarik kertas penuh noktah goresan
Dalam canda tawa engkau lukiskan kebersamaan
Berpisahlah raga dan biarkan rinduku terpendam
Di persimpangan ini
Sekelebat bayanganmu berkilauan
Meninggalkan jejak jejak membran hati yang bertautan
Dalam kuncup kuncup bunga bermekaran
Dimana hasrat jiwa menyatu sebagai toksik persahabatan
Dan perpisahan ini menjadi benih sebuah harapan
Sebuah pertemuan
Sungai Jepun, 0215
Joe DCoolGen
Kulihat sinar matamu menyiratkan kegalauan
Dalam gelisah engkau bergumam
Berpisahlah raga dan biarkan jiwamu bersemayam
Di persimpangan ini
Kutemukan secarik kertas penuh noktah goresan
Dalam canda tawa engkau lukiskan kebersamaan
Berpisahlah raga dan biarkan rinduku terpendam
Di persimpangan ini
Sekelebat bayanganmu berkilauan
Meninggalkan jejak jejak membran hati yang bertautan
Dalam kuncup kuncup bunga bermekaran
Dimana hasrat jiwa menyatu sebagai toksik persahabatan
Dan perpisahan ini menjadi benih sebuah harapan
Sebuah pertemuan
Sungai Jepun, 0215
Joe DCoolGen
Selasa, 10 Februari 2015
PANCARASA
Mungkin saja kutau hatimu kau tambatkan pada sesuatu
Dan itu bukan aku,
Seperti halnya sedikit hatiku yang kutautkan pada dinding hatimu
Mungkin saja kutau gerik tubuhmu kau bahasakan tentang sesuatu
Dan itu bukan hasrat padaku,
Seperti halnya tingkah polosku yang jujur mengikuti arah auramu
Mungkin saja kutau, tutur katamu adalah bahasa kalbu satiranmu
Dan itu bukan bahasa yang mudah kucerna sebagai tanda
Seperti halnya ucapanku yang terbungkus retorika memaknakan tentangmu bagiku
Mungkin saja kutau, kau telah tuliskan dalam diarymu nama indah yang kau lafalkan sebelum tidur lelapmu
Dan itu bukan inisial inisial, bin alias aliasku
Seperti halnya sebanyak ukiran namamu yang kupahatkan disetiap mimpi malamku
Mungkin saja sinar matamu telah menjadi terang dunia, dimana setiap arjuna mengantri mencuri hangat disetiap paginya
Dan aku dalam barisan paling belakang
Yakinku sinar matamu telah menerobos gelapnya hatiku menuju padamu...
Memperturutkan auramu
Menyarikan makna tentang hadirmu
Seperti sketsa mimpi mimpi malam panjangku
Dalam penantianku akan dirimu....
Palmerstone, NT...6.12.02
Joe DCoolGen
Dan itu bukan aku,
Seperti halnya sedikit hatiku yang kutautkan pada dinding hatimu
Mungkin saja kutau gerik tubuhmu kau bahasakan tentang sesuatu
Dan itu bukan hasrat padaku,
Seperti halnya tingkah polosku yang jujur mengikuti arah auramu
Mungkin saja kutau, tutur katamu adalah bahasa kalbu satiranmu
Dan itu bukan bahasa yang mudah kucerna sebagai tanda
Seperti halnya ucapanku yang terbungkus retorika memaknakan tentangmu bagiku
Mungkin saja kutau, kau telah tuliskan dalam diarymu nama indah yang kau lafalkan sebelum tidur lelapmu
Dan itu bukan inisial inisial, bin alias aliasku
Seperti halnya sebanyak ukiran namamu yang kupahatkan disetiap mimpi malamku
Mungkin saja sinar matamu telah menjadi terang dunia, dimana setiap arjuna mengantri mencuri hangat disetiap paginya
Dan aku dalam barisan paling belakang
Yakinku sinar matamu telah menerobos gelapnya hatiku menuju padamu...
Memperturutkan auramu
Menyarikan makna tentang hadirmu
Seperti sketsa mimpi mimpi malam panjangku
Dalam penantianku akan dirimu....
Palmerstone, NT...6.12.02
Joe DCoolGen
Langganan:
Postingan (Atom)
KISAH PAGI
Aku menemui embun pagi Yang bersiap pergi dari ujung dedaunan Ia seperti malu bercengkrama dengan mentari Yang menawarkan kehangat...
-
Uff..... Mungkin baru seperempat saja kelopak mataku iklhas terbuka Ketika sanubariku tergerak, mengalirkan energi ke sel, sar...
-
Aku belajar pada matahari Yang tanpa lelah memancarkan sinar hangatnya Menjadi selimut bagi bumi dengan segala keluh kesahnya Yang setia ...
-
2. NEGERI IMPIAN Disana...di negeri para Karaeng Tersebutlah sebuah negeri setengah dongeng Dimana beban masyarakat sangatlah enteng Ka...